Minggu, 03 Mei 2015

Just story

Diapun tak bisa disalahkan

Terjebak kenangan di masa lalu membuaat Ewi sulit untuk menemukan seseorang sebagai teman special dalam kehidupannya. Kurang lebih selama 5 tahun Ewi tidak memiliki teman lelaki yang special. Semuanya diawali ketika Ewi duduk dibangku SMA, teman lelaki special Ewi berpaling dengan mendekati sahabat dekat Ewi. Ewi tidak pernah berpikir bahwa sahabat dekatnya sendiri tega untuk melakukan hal seperti itu. Ewi memutuskan untuk mengakhiri hubungannya, dan merelakan teman dan mantan pacarnya untuk bersama. Selama di perkuliahan Ewi bisa melalui hari-harinya tanpa seorang pacar, Ewi cukup senang dengan hari-harinya karena Ewi memiliki teman-teman yang selalu ada disaat Ewi membutuhkannya. Hingga Ewi lulus dari perkuliahan Ewi juga belum memiliki teman special. Bagi Ewi untuk saat ini seorang pacar bukanlah hal yang terpenting, karena Ewi harus focus bekerja untuk membantu orangtua dan adiknya yang sedang sekolah. Ewi seorang perempuan yang sabar dan tulus, Ewi bisa mengalahkan egoisnya untuk tidak mengikuti teman-temannya yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup teman-temanya sendiri. Sementara Ewi harus mengirimkan 50 persen dari gajinya untuk mama dan adiknya. Ewi anak pertama dari 3 bersaudara, kedua orangtuanya sudah bercerai semenjak Ewi masi duduk di bangku SD, sehingga Ewi tinggal bersama neneknya sampai Ewi lulus dari perkuliahan. Ewi tidak pernah menyalahkan kedua orangtuanya mengapa kedua orangtuanya harus berpisah, dan semua beban keluarga kini ada di Ewi. Kini kedua orangtua Ewi sudah sama-sama menikah lagi dengan pilihannya masing-masing. Hingga suatu hari salah satu teman Ewi bertanya mengapa dirinya tidak berminat untuk mencari pacar lagi, dan Ewi pun hanya menjawab dengan senyuman.  Pernah memiliki seseorang yang special di dalam hidupnya walaupun hanya sebentar bagi Ewi sudah sangat cukup. Ewi seperti tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, ditambah lagi Ewi melihat cerminan terhadap kedua orangtuanya. Ewi hanya berpikir apa salah dia terhadap pacarnya yang dulu sehingga harus menyakiti dia dengan berpaling dengan temannya sendiri. Ewi tidak pernah menyalahkan pacar dan temannya, hingga saat ini Ewi masih berteman dengan sahabatnya. Ewi juga baru mengatahui bahwa sahabatnya kini sudah tidak ada hubungan lagi dengan sesorang yang pernah mengisi hatinya itu. Sampai saat ini sepertinya Ewi masi menyimpan rasa dengan mantan pacarnya itu, namun Ewi tidak pernah berniat untuk kembali padanya.

Sepertinya hati Ewi yang tadinya sudah tertutup kini mulai dapat menerima bahwa kenangan hanya kenangan yang dapat dijadikan sebuah pelajaran yang berharga. Ewi menyadari disaat Ewi memiliki masalah, dia tidak pernah tau ingin bercerita dengan siapa. Ewi tidak ingin selalu mengganggu teman-temannya untuk diajak ketemu, karena Ewi tau bahwa teman-temannya juga mempunyai kesibukan, mungkin hal itulah yang membuat hati Ewi mulai terbuka.  Tapi sampai saat ini Ewi belum menemukan yang terbaik, yah…proses itu tidak semudah membalik kedua telapak tangan. Walau hingga saat ini Ewi belum memiliki pacar, suatu hari nanti dia akan bertemu dengan seseorang yang bisa mengerti dia apa adanya. Itulah yang selalu Ewi katakana jika orang selalu bertanya mengapa sampai saat ini belum memiliki seseorang yang special dan mengapa bertahan sampai sejauh ini masi sendiri.

“Seoang pacar yang baik tidak hanya sekedar pacar, seorang pacar bisa sebagi teman untuk bercerita dan menjadi seorang kakak untuk melindungi”.